Temper Tantrum Pada Bayi dan Balita

Mungkin kita masih asing dengan istilah temper tantrum. Padahal, sebenarnya kita sering menemukan anak dengan kondisi ini di sekitar kita. Temper tantrum sendiri adalah kondisi dimana emosi anak menjadi meluap-luap dan tidak terkontrol. Seringkali, temper tantrum ini terlihat ketika anak sedang menginginkan sesuatu. Misalnya saja, ketika kita sedang berjalan-jalan ke sebuah mall dan menemukan seorang anak yang meminta sesuatu pada orangtuanya dengan cara menangis, berteriak, bahkan memukul. Kondisi ini merupakan salah satu dari contoh temper tantrum.

Pada umumnya, temper tantrum terjadi pada anak balita (rentang usia 1 hingga 5 tahun). Namun, bayi pun ternyata bisa mengalami kondisi seperti ini, meskipun karena hal yang berbeda.

  • Temper tantrum pada bayi

Pada usia bayi, anak belum mampu mengutarakan apa yang dirasakannya atau apa yang diinginkannya. Hal inilah, yang terkadang membuat bayi mengalami kondisi ini. Umumnya, bayi mengalami temper tantrum ketika bayi merasa kelelahan berlebihan (hingga sulit tidur), lapar, frustasi, takut atau cemas, atau menolak adanya perubahan yang terjadi disebayi temper tantrumkitarnya. Ketika bayi mengalami hal ini, orangtua bisa mencoba untuk mengatasinya dengan cara menggendongnya, dan membuat bayi merasa senyaman mungkin. Jauhkan bayi dari berbagai hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Misalnya saja seperti suasana yang terlalu ramai, atau hal lainnya.

  • Temper tantrum pada balita

Pada balita, umumnya mereka sudah mampu untuk berbicara sehingga akan lebih mudah mengutarakan keinginannya. Namun, terbatasnya perbendaharaan kata yang dimilikinya, terkadang membuat orang disekelilingnya kesulitan memahami keinginantemper tantrum pada bayi dan anaknya. Saat inilah, anak akan berpotensi mengalami luapan emosi yang tidak terkontrol. Selain itu, temper tantrum juga berpotensi tinggi terjadi pada anak yang terbiasa mendapatkan segala hal yang diinginkannya. Ketika suatu saat anak tersebut tidak berhasil mendapatkan hal yang diinginkannya, maka anak tersebut bisa meluapkan emosinya dengan cara yang tidak baik, seperti berteriak, memukul, menangis, dan sebagainya.

Kondisi temper tantrum pada bayi dapat dihindari dengan cara berusaha memberikan suasana yang nyaman pada bayi. Sementara untuk balita, kondisi temper tantrum dapat diatasi dengan beberapa cara, salah satunya yaitu dengan berusaha memberikan perhatian secara wajar (tidak berlebihan) pada anak, dan memberinya pengertian bahwa yang dilakukannya salah. (Vivi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s