Deteksi Down Syndrome pada Anak

Down Syndrome adalah suatu kondisi dimana  seseorang mengalami keterbelakangan pertumbuhan serta perkembangan fisik dan mental akibat adanya perkembangan kromosom yang tidak normal. Kelainan kromosom ini terjadi akibat kegagalan pemisahan diri dari sepasang kromosom saat proses pembelahan. PeDeteksi Down Syndrome pada Anaknyebab pasti terjadinya penyakit ini masih belum dapat diketahui secara pasti. Namun, penyakit ini lebih berpotensi menyerang anak-anak yang dilahirkan dengan kondisi ibu berumur 35 tahun atau lebih. Hal ini diperkirakan akibat dari terjadinya perubahan hormonal yang menyebabkan “non-disjunction” pada kromosom, yaitu terjadinya translokasi pada kromosom 21 dan 15.

Dengan menggunakan teknologi yang terus dikembangkan, kelainan ini sudah dapat dikembangkan sejak masih dalam kandungan. Ada 2 jenis tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan ini, yaitu tes skrening dan tes diagnostik.

  • Tes skrening lebih cepat dan mudah untuk dilakukan, namun hasil yang didapat kurang dapat dipercaya di bandingkan tes diagnostik. Pada tes skrening bisa terjadi 2 kondisi hasil yang salah, yaitu false positif (Hasil tes dinyatakan positif tapi ternyata pasien negatif) dan false negatif (hasil tes menyatakan negatif namun keadaan sebenarnya pasien positif).
  • Tes diagnostik memiliki hasil yang lebih akurat dan terpercaya. Namun untuk melakukan tes ini diperlukan prosedur yang rumit, selain itu biaya yang harus dikeluarkan juga lebih mahal.

Anak yang memiliki kelainan ini dapat dengan mudah dikenali, karena memiliki tampilan fisik yang berbeda. Pada bagian wajah biasanya hidung terlihat lebih datar, mulut yang mengecil dan bagian lidah yang menonjol keluar. Bentuk matanya lebih sipit dengan sudut bagian tengah yang membentuk lipatan. Tangan dan jari yang berukuran lebih pendek dari normal, serta jarak antara jari pertama (ibu jari) dan jari kedua (telunjuk) yang melebar.

Anak yang mengalami down syndrome tidak bisa membutuhkan perlakuan khusus dan kesabaran untuk mendidiknya. Sama seperti pada penderita Dyslexia yang tidak bodoh, tetapi karena memang terdapat keterbatasan berbahasa serta terdapat gangguan motorik, mulai dari tingkat yang ringan hingga yang berat pada anak down syndrome. Selain itu, perkembangan emosional, sosial, serta intelektualnya berkembang lebih lambat daripada anak normal. Namun, bukan berarti mereka tidak mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, atau tidak mampu untuk berprestasi. Banyak juga anak down syndrome yang berhasil dibina dengan baik sehingga meraih prestasi, yang bahkan bisa mengalahkan prestasi anak normal. Jadi, untuk para orangtua tidak perlu malu memiliki anak down syndrome. Tetap dukung mereka, dan didik mereka dengan baik agar mampu untuk berprestasi. (Vivi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s